Hebatnya Jokowi Bebaskan Tapol Asal Papua

Tahanan politik masih saja di sandang oleh sebagian orang di negara kita. Meskipun telah 17 tahun reformasi, masih saja ada tahanan politik (tapol) di Papua serta Kepulauan Maluku. Sebagai Presiden Negara ini, Jokowi telah membebaskan satu per satu. Hal tersebut dilakukan pada Mei kemarin yang memberikan grasi kepada 5 tapol di Papua.

Tahanan politik tersebut dihukum karena pada tahun 2003 pembobolan pada gudang senjata Kodim 1710/Wamena. Kelima orang yang dimaksud adalah Jefrai Murib, Numbungga Telenggen yang mendapatkan hukuman seumur hidup, Apotnalogolik Lokobal yang mendapat hukuman 20 tahun, Kimanus Wenda yang mendapatkan hukuman selama 19 tahun, dan Linus Hiluka yang harus dipenjara selama 19 tahun.

Di Apas Abepura, Presiden menyampaikan bahwa ini dilakukan pemerintah sebagai upaya untuk mewujudkan perdamaian Papua. Tak hanya mereka, grasi juga diberikan pada Filep Karma. Filep merupakan pentolan dari kemerdekaan Papua namun ia tidak ingin mengajukan grasi.

Saat ini Filep sudah bebas karena remisi yang diberikan Kementerian Hukum dan HAM sehingga hanya 11 tahun penjara. Dia juga menolak itu namun Lembaga Permasyarakatan (LP) Abepura mengizinkannya untuk merasakan kebebasan. Setelah bebas, Filep mengucapkan terima kasih kepada Amnesty International, West Papua Advocacy Team, Freedom Now, West Papua Advocacy Team, Human Rights Watch, dan seluruh LSM yang mendukung pembebasannya.

Kebebasan beberapa tahanan politik tersebut ternyata masih menyisakan sekitar 90 tapol di Papua maupun Kepulauan Maluku. Mereka merupakan para demonstran, orang-orang yang unjuk gigi di panggung politik, kerabat dari orang yang aktif politik, orang yang terduga terlibat dalam politik, dari penangkapan secara massal, pada saat kegiatan politi (mengibarkan bendera), dan anggota organisasi aktifi politik.

Rata-rata mereka terkena hukuman berdasarkan pasal 106 KUHP sebagai upaya perlawanan terhadap pemerintah yang sah. Misal Filep ditangkap setelah mengibarkan bendera Bintang Kejora pada peringatan Ulang Tahun Papua Merdeka pada 1 Desember 2004. Sebab hal tersebut dinilai sebagai pengkhianatan yang dilakukan Filep.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>